Minggu, 22 Juli 2012

Kesetiaan Yang Kokoh: Daniel 3

Pendahuluan

Daniel adalah salah satu tokoh iman terbesar sepanjang sejarah Alkitab. Selama lebih dari 70 tahun melayani Tuhan, Daniel telah memberikan kontribusi penyingkapan rahasia Allah yang sangat berarti juga teladan hidup bergaul akrab dengan Tuhan, bagi umat yang hidup di zamannya bahkan bagi generasi sesudahnya hingga saat ini. Menurut Dr. Parlaungan Gultom, kitab Daniel adalah termasuk kitab yang kontroversial dalam Alkitab, tetapi diyakini beritanya sangat jelas dan tidak ada salahnya. Informasi penting lainnya adalah bahwa kitab Daniel adalah satu-satunya kitab PL yang ditulis seluruhnya dalam bahasa apokaliptis dan dilihat dari sisi itu, kitab Daniel mirip dengan kitab Wahyu dalam PB.

Secara keseluruhan isi kitab dibagi dalam dua bagian besar yang nyata, yaitu pasal 1-6 merupakan naratif historis yang berhubungan degan peristiwa-peristiwa Daniel dan pelayanannya di istana Babel dan Persia. Dan pasal 7-12 adalah visi-visi berupa catatan-catatan pribadi dari Daniel yang berhubungan dengan hari-hari akhir hidupnya. Visi-visi tersebut berisi pasal-pasal perorangan yang dicatat bagi kepentingan teologisnya. Pasal 7 melukiskan Allah sebagai “Yang Lanjut Usia” sebutan “Anak Manusia” yang kemudian banyak digunakan oleh Yesus yang diterapkan kepada diri-Nya (Mat. 16:27; 24:30; 26:64; Mrk. 8:38; 13:26, dll). Pasal 9 memaparkan tentang “70 x 7” masa atau “70 Minggu dari tahun” yang secara hangat diperdebatkan. Pasal 12 merupakan visi penutup yang menyajikan satu-satunya acuan PL yang tegas, mengenai kebangkitan.

Latar Belakang

A. Keseluruhan Kitab.

Penulis kitab ini, adalah Daniel (9:2; 10:2). Dan dari sebuah pernyataan, mengindikasikan bahwa Tuhan Yesus mengakui Daniel sebagai penulis (Mat. 24:15). Kitab Daniel ditulis dengan dua bahasa yakni bahasa Ibrani (1:1-2:4a dan 8-12) dan bahasa Aram (2:4b-7:28). Dengan adanya pengaruh kata-kata Persia dalam bahasa Aram, pada baghian kitab ini, maka diperkirakan Daniel menulis pada masa-masa akhir hidupnya yaitu sekitar tahun 530 SM. Namun demikian ahli teologia liberal meyakini berdsarkan nubuat-nubuat dalam kitab ini yang terlalu akurat dan ajaib maka pnulisannya diperkirakan pada tahun 165 SM. Karena mereka meragukan Daniel dapat bernubuat tentang masa depan secara tepat dan akurat.

Catatan khusus, tidak hadirnya Daniel dalam pasal 3 ini menimbulkan   banyak pertanyaan dan spekulasi. Kemungkinan yang paling dekat adalah, bahwa Daniel sedang berada di tempat lain sehingga cerita pasal 3 ditulis berdasarkan informasi orang lain, paling tidak dari tiga temanya yang adalah saksi utama.

Daniel melayani pada masa pergantian 6 raja Babel dan 1 raja Persia yaitu, Nebukadnezar, Ewil-Merodakh, Neriglisar, Labasi-Marduk, Nebonidus, Belsyazar (Babel) dan Koresy (Persia), yang dimulai sejak pembuangan pertama ke Babel tahun 605 SM. Tema utama kitab ini adalah Tuhan Allah berdaulat atas raja-raja dan melakukan apa yang Dia kehendaki (4:17).

B. Khusus Pasal 3.

Pasal ini adalah salah satu bagian dari naratif histories. Peristiwanya dimulai dari sebuah aturan yang dikeluarkan raja Nebukadnezar berisi tentang kewajiban semua orang yang ada di wilayah kekuasaannya harus menyembah patung buatannya.

Garis Besar

I.        Peraturan raja: 1-8

II.      Tuduhan kepada orang Yahudi: 9-15

III.     Pembelaan Sadrakh, Mesakh dan Abednego: 16-18

IV.     Hukuman raja: 19-23

V.      Mujizat Allah

          a. Sadrakh, Mesakh dan Abednego diselamatkan: 24-27

          b. Pengakuan raja terhadap Allah: 28-29

          c. Sadrakh, Mesakh dan Abednego diberikan kedudukan tinggi: 30

Narasi (3:1-30)

Sebagai orang nomor satu dan memiliki kuasa yang tidak terbatas di Babel, Nebukadnezar dapat melakukan apa saja yang diinginkannya. Tanpa kesulitan Nebukadnezar membangun patung emas (bukan berarti semuanya terbuat dari emas tapi mungkin hanya dilapisi emas) yang tingginya 60 hasta atau kira-kira 27 m dan lebar 6 hasta atau kira-kira 2,7 m, sungguh sebuah patung yang sangat menakjubkan.

Sesudah itu ia memanggil para wakil raja, semua penguasa dan para bupati serta para penasihat negara, bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah untuk menghadiri pentahbisan/peresmian patung tersebut. Menurut kebiasaan yang dipakai di Asyur dan Babel, semua yang hadir harus berdiri menghadap patung.

Selanjutnya melalui seorang bentara (kata bahasa Aram keroza yang dalam bahasa Yunani disebut kerux) yang artinya pemberita, raja menginstruksikan kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa yaitu para raja dan lain-lain yang dianggap sebagai perwakilan semua bangsa dan suku dari kerajaan Nebukadnezar, supaya pada saat mendengar sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus,  serdam dan berbagai jenis bunyi-bunyian, semuanya tanpa kecuali harus sujud menyembah patung raja itu. Dan bagi mereka yang membangkang, akan dihukum dalam perapian yng menyala. Ini adalah model hukuman zaman kuno yang dirancang sedemikian rupa dan memiliki pintu ataupun jendela untuk memasukkan terhukum ataupun cela untuk melihat mereka yang sedang terpanggang di dalamnya. Perintah yang disertai ancaman itupun serta merta ditaati.

Akan tetapi bagi mereka yang setia kepada Allah yang benar sebagai satu-satunya yang harus disembah, peraturan ini menjadi satu pergumulan. Belum sempat mereka menyatakan sikap atas keputusan raja tersebut, sudah diadukan kepada raja. Orang Yahudi khususnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego dipastikan sebagai pembangkang oleh sekelompok orang Kasdim. Ungkapan “mereka telah tuanku berikan. . .” adalah provokasi yang berhasil memicu kemarahan raja yang luar biasa karena dianggap tidak tahu berterima kasih atas kebaikkan raja yang telah memberikan jabatan di wilayah Babel.

Di sinilah kesetiaan pemuda-pemuda Yahudi terhadap Allah nenek moyangnya dipertaruhkan, karena bukan hanya akan kehilangan jabatan, tetapi dalam kegeraman raja nyawa mereka sedang dalam ancaman.

Hal yang paling menarik tetapi juga serius pada bagian ini adalah kesempatan untuk mempertimbangkan keputusan masih diberikan, tetapi dengan tegas mereka abaikan kesempatan itu dan mengambil sikap untuk tidak membahas tawaran raja, sebaliknya mereka menantangnya dengan kesediaan untuk dihukum karena tidak ingin menghianati kesetiaan dan kebaikkan Allah Sang penguasa yang juga berkuasa atas hidup Nebukadnezar serta seluruh rakyat Babel.

Ada sedikit masalah dalam terjemahan pernyataan “jika Allah. . .” beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa teks tersebut salah, karena terkesan ketiga orang Yahudi itu meragukan kesanggupan Allah. LAI sendiri menterjemahkannya secara harfiah dari kata-kata bahasa Aram. Beberapa terjemahan dari sumber kuno yaitu Septuaginta, Theodotion, Vulgata dan Pesytta menyatakan bukan kata “jika” yang digunakan tetapi “sebab” jadi terjemahan secara utuh adalah “sebab Allah yang kami puja sanggup melepaskan kami maka Ia akan melepaskan kami. . .” Usulan lain terhadap terjemahan ini yaitu “jika Allah yang menurut kehendak-Nya baik, dapat melepaskan maka Ia akan melakukannya.

Keyakinan ketiga pemuda Yahudi ini dipertegas dengan sebuah keputusan yang konsisten sebagai bukti kesetiaan kepada Allah yang tidak tergoyahkan, kapan, di mana dan apapun keadaannya. Keputusannya adalah “Jika Allah karena alasan yang baik tidak melepaskan mereka dari hukuman itu,” mereka tetap tidak akan menyembah patung. Keputusan yang akhirnya menuai konsekwensi fatal. Ancaman raja ternyata bukan gertakkan karena setelah mendengar pernyataan Sadrakh dan teman-temannya, eksekusipun dilaksanakan bahkan api pembakaran dtingkatkan menjadi 7x lebih panas, ini seakan menunjukkan tingkat kemarahan raja. Ketiga orang Yahudi itu diikat lengkap dengan pakaian dan atribut, suatu eksekusi hukuman yang tidak lazim pada masa itu karena biasanya penjahat-penjahat dihukum dalam keadaan telanjang (bdk. Mat. 27:35; Mzm. 22:19) dan dalam lukisan orang Kristen purba sering digambarkan sebagai ketelanjangan dalam api. Tidak jelas apa alasannya masalah pakaian ini dicatat oleh Daniel, namun ada dugaan sebagai gagasan memperbesar mujizat mengingat kain adalah bahan yang mudah terbakar dan seseorang yang dibakar dengan pakaian tidak mungkin tidak terbakar.

Tidak mungkin bagi manusia tetapi sangat mungkin bagi Allah. Sadrakh, Mesakh dan Abednego dilemparkan ke dalam perapian dalam keadaan terikat, tetapi justeru terlihat sedang berjalan-jalan dengan bebas. Juga terlihat pribadi keempat yang disebut sebagai “anak dewa” mungkin ini malaikat utusan Allah seperti yang dikatakan pada ayat 28, tetapi mungkin juga adalah Allah sendiri sebagai Theofani. Siapapun itu yang pasti Allah hadir dan menyelamatkan. Ini mujizat pertama.

Keajaiban yang terjadi, sangat memukau raja dan para pejabat lainnya dan dalam kekagumannya raja membuat peraturan baru yang kontras dengan peraturan sebelumnya. Raja yang meremehkan Allah (15), sekarang berseru memuji Allah, ia yang membuat patung untuk disembah sekarang memberi perintah supaya semua orang di wilayahnya harus menghormati Allah orang Yahudi bahkan diancam dengan hukuman berat bagi mereka yang tidak mentaatinya. Inipun merupakan mujizat. Dan mujizat yang ketiga adalah berkat jasmani bagi Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Mereka tidak kehilangan jabatan tetapi malah memperoleh  kedudukan yang lebih tinggi dari sebelumnya atau setidaknya mereka masih tetap menjadi pejabat.

Ayat kunci:

Allah adalah satu-satunya yang layak disembah (3:18).

Tujuan penulisan pasal 3

Untuk menyatakan kedaulatan Allah sebagai yang Mahakuasa dan pembelaan-Nya terhadap umat yang berlaku setia.

Isi berita pasal 3

Memberi peringatan bahwa setiap orang yang hidup dalam kebenaran selalu menjadi lawan orang fasik, sering jadi korban fitnah bahkan menjadi sasaran penganiayaan (Mzm. 11:2-3). Hal yang sama terjadi juga dalam kehidupan Yesus, Stefanus dan banyak orang percaya lainnya. Namun orang percaya harus tetap setia pada kebenaran apapun yang terjadi (Mat. 24:13; Kis. 7:59-60 bdk. Kis. 20:22-24).

Aplikasi dalam kehidupan saat ini adalah¸ prinsip kesetiaan yang ditunjukkan oleh Sadrakh dan teman-temannya yaitu:

1.    Menghadapi setiap masalah dengan iman (tidak lari dari kenyataan).

2.    Menyerahkan penyelesaian masalah menurut kehendak Allah

3.    Menerima apa yang terjadi dengan pujian dan ucpan syukur. Pada akhir ayat 23, Septuaginta dan Vulgata menyisipkan doa dan lagu pujian yang dilakukan oleh tiga orang Yahudi tersebut ketika ada dalam perapian. Catatan ini termasuk dalam Deutrokanonika dan ada pada Alkitab Gereja Katolik. Ditinjau dari segi iman para pemuda Yahudi itu maka hal ini sangat mungkin terjadi (bdk. Kis. 16:25).

4.    Menempatkan Allah sebagai sumber berkat yang kekal di atas segala yang dimiliki sekarang (kepintaran, kekayaan, kedudukan, kehormatan dll), sehingga semua itu tidak harus menjadi penghalang untuk tetap setia kepada Allah.

5.    Kesetiaan yang kokoh akan menjadi kesaksian bagi orang lain dan besar kemungkinan orang akan memuliakan Allah melalui kesetiaan orang percaya.

6.    Allah sangat memahami kebutuhan manusia secara jasmani dan kalau Dia sanggup menyediakan hidup yang kekal maka untuk hidup yang sementara ini Dia pasti sanggup mencukupkan dan memenuhi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar